24 Januari 2014

Teruntuk Setahun yang Lalu



Ini terjadi begitu saja sejak satu tahun yang lalu. Entah apa yang terjadi pada musim itu ketika tiba – tiba kupu kupu datang menghampiri dan menebarkan serbuk serbuk pada putik dan benangsari suatu bunga ke bunga yang lainnya. Seperti yang sudah terduga bunga yang menawan tumbuh menghiasi indahnya kehidupan. Seperti halnya dirimu.. aku mengatakan bahwa kamu adalah kupu – kupu. Kamu menghampiriku, namun kamu tak langsung menebarkan serbuk serbukmu kepadaku. Satu tahun lalu itu pula kita mengenal satu sama lain, satu tahun lalu itu pula semua cerita terangkai itu berawal. Setahun lalu seperti prolog sebuah kisah yang mengantarkan aku dan kamu sampai kisah sekarang ini, entah kisah seperti apa itu. Kamu perlahan menebarkan serbuk serbuk cinta padaku dengan semua sikap dan kebaikanmu kepadaku. Sampai akhirnya serbuk itu menumbuhkan bunga bunga yang bermekaran dalam rasa dan asaku. Aku tak berani mengatakan soal hati saat itu, rasa mungkin lebih tepat untukmu yang memang menciptakan cerita “pahit” dalam goresan kisahku ini.
Saat bunga itu tumbuh aku merasakan bahagia... harapan demi harapan mulai aku lambungkan perlahan, tinggi... dan lebih tinggi. Bahagia ku ketika aku mampu selalu ada jika kamu membutuhkanku, bahagiaku ketika kita melewati hari bersama kala itu, bahagiaku ketika kamu mengajariku bagaimana untuk “bahagia”. Itu hanya sedikit cerita “bahagia” yang aku lalui denganmu. Esok demi esok waktu yang terus bergulir cepat bahagia perlahan pudar. Aku masih tak mengerti opera ini. Sebelumnya memang kita tak berkata jujur untuk “perasaan” aku dan kamu. Kita tak saling mengerti “perasaan” itu. Lalu apa yang membuat semua bahagia itu pudar ?. cerita yang terangkai pun terus berjalan. Menjauh satu sama lain, ya kita melakukannya !. beribu pertanyaan terlintas dalam benakku. Harapan dan asaku perlahan jatuh, tak seperti sebelumnya yang melambung tinggi. Kisah itu kini membawaku dalam perasaan hampa. Membuatku tak beranjak dan mencari kisah lainnya. Entah apa yang aku tuliskan ini, tetapi inilah isi hati yang tak terarah seperti halnya tulisanku ini. Kamu, berharap kamu untuk membacanya namun takkan mungkin. Aku harap ini merupakan pesanku untukmu jika KAMU BENAR BENAR MEMBACANYA ! sampaikan padaku sesuatu setelah kamu membaca ini. Katakan isi hatimu apapun itu, aku menyayangimu.. bahka mungkin lebih dari rasa sayang itu.